Kembangkan Solusi Lingkungan, Tim SMAN 21 Jakarta Raih Juara National Innovation Challenge
Persoalan lingkungan di sekitar dapat menjadi titik awal bagi generasi muda untuk menciptakan inovasi yang berdampak luas. Hal ini terbukti secara nyata dalam ajang National Innovation Challenge 2026 yang diselenggarakan oleh BASF Indonesia bekerja sama dengan Prestasi Junior Indonesia (PJI). Kompetisi ini merupakan puncak dari rangkaian program edukatif bertajuk Young Voices for a Sustainable Future – Innovation Challenge for a Just Transition. Di antara sepuluh tim finalis yang menampilkan karya terbaiknya, Tim Gen V dari SMAN 21 Jakarta berhasil memukau para juri dan meraih gelar juara berkat inovasi cemerlang mereka, yaitu O2H: Atmospheric Water Harvesting System.
Keberhasilan Tim Gen V SMAN 21 Jakarta ini menjadi simbol semangat generasi Z dalam menjawab tantangan global melalui pendekatan yang berbasis pada kebutuhan lokal. Presiden Direktur BASF Indonesia, Dr. Christofer Arisandy, menegaskan bahwa transisi menuju ekonomi yang lebih berkelanjutan tidak bisa hanya bersandar pada kemajuan teknologi semata. Menurutnya, dibutuhkan peran aktif generasi muda yang memiliki kepekaan tinggi terhadap realitas di sekitarnya. "Transisi menuju perekonomian yang lebih berkelanjutan memerlukan lebih dari sekadar kemajuan teknologi. Diperlukan pula generasi muda yang memiliki kemampuan untuk memahami berbagai tantangan di sekitarnya, mengidentifikasi peluang dan menciptakan nilai tambah, serta menghadirkan solusi yang relevan dan bermanfaat bagi masyarakat," ujar Christofer, Jumat (2/10/2026).
Program Young Voices for a Sustainable Future sendiri telah bergulir sejak April 2026 dan melibatkan total 100 siswa yang terbagi ke dalam 20 tim dari 16 sekolah menengah atas (SMA) di wilayah Jabodetabek. Seluruh peserta diajak untuk mengadopsi pendekatan STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts, and Mathematics) guna membedah dan mencari jalan keluar atas enam tema besar: Aksi Iklim, Air dan Sanitasi, Konsumsi Bertanggung Jawab, Ekonomi Sirkular dan Pengurangan Limbah, Energi Berkelanjutan, serta Solusi Digital untuk Keberlanjutan.
Inovasi yang dihadirkan oleh para peserta sangat beragam dan mencerminkan kematangan riset mereka. Beberapa tim memanfaatkan teknologi mutakhir seperti kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), sistem sensor terintegrasi, aplikasi digital berbasis mobile, hingga analisis data yang mendalam. Tidak hanya itu, banyak peserta yang berhasil mengembangkan produk bernilai guna tinggi dari material sisa, serta merancang teknologi tepat guna untuk efisiensi pengelolaan air dan energi di tingkat rumah tangga.
Dr. Christofer menambahkan bahwa esensi dari program ini bukan sekadar perlombaan, melainkan bagaimana mendorong siswa mengubah masalah sehari-hari menjadi peluang melalui proses riset yang terstruktur, kreativitas tanpa batas, dan kolaborasi tim yang solid. "Melalui Young Voices for a Sustainable Future, para siswa dipacu untuk menunjukkan bahwa inovasi dapat berawal dari permasalahan sehari-hari dan berkembang menjadi gagasan yang memberikan dampak nyata," tambahnya.

Inovasi O2H: Atmospheric Water Harvesting System yang membawa Tim Gen V SMAN 21 Jakarta menjadi juara, merupakan jawaban atas krisis air yang kerap melanda. Perangkat ini dirancang dengan bentuk yang ringkas, memungkinkan alat tersebut menangkap kelembapan di udara dan mengubahnya menjadi air bersih siap konsumsi melalui proses penyaringan serta sterilisasi yang ketat. Muhammad Rizqi Sugianto, perwakilan dari Tim Gen V, menjelaskan bahwa motivasi utama mereka adalah keprihatinan mendalam terhadap sulitnya akses air bersih bagi warga, terutama saat musim kemarau panjang. "Kami merancang perangkat ini agar dapat digunakan secara praktis oleh rumah tangga maupun komunitas, sehingga ketergantungan terhadap sumber air yang tercemar atau terbatas dapat dikurangi," jelasnya.
Selain melahirkan solusi teknis, program ini juga berfungsi sebagai kawah candradimuka bagi para siswa. Mereka ditempa untuk mengasah keterampilan lunak (soft skills) yang krusial bagi masa depan, seperti kemampuan berpikir kritis, manajemen waktu, komunikasi persuasif, kerja sama tim, hingga pemecahan masalah kompleks (complex problem solving).
Direktur Eksekutif Prestasi Junior Indonesia, Utami Anita Herawati, menekankan pentingnya memberikan ruang bagi siswa untuk bereksperimen. Menurut Utami, generasi muda tidak cukup hanya dibekali dengan teori atau informasi mengenai perubahan iklim. Mereka harus diberi kesempatan untuk terjun langsung mencari tahu akar masalah, mencoba berbagai gagasan di lapangan, menerima umpan balik, dan memperbaiki solusi mereka secara iteratif. "Pengalaman ini menunjukkan kepada siswa bahwa pelajaran yang mereka dapatkan di sekolah dapat digunakan untuk membantu menjawab kebutuhan masyarakat. Proses tersebut secara langsung membangun kepercayaan diri mereka dalam menghadapi tantangan masa depan yang semakin dinamis," tutur Utami.
Dampak dari kompetisi ini diharapkan tidak berhenti di panggung kemenangan. BASF dan PJI memiliki visi jangka panjang untuk terus memotivasi generasi muda agar terus mengeksplorasi isu-isu keberlanjutan. Dengan dukungan mentor dan akses terhadap wawasan industri, para siswa ini didorong untuk terus mengembangkan inovasi mereka agar dapat diimplementasikan secara luas di masyarakat.
Keberhasilan Tim Gen V SMAN 21 Jakarta dan para finalis lainnya membuktikan bahwa sekolah bukan sekadar tempat menimba teori, tetapi pusat inovasi yang mampu melahirkan solusi nyata bagi lingkungan. Integrasi antara pendekatan STEAM dengan kepedulian sosial yang kuat menjadi kunci sukses dalam menciptakan generasi masa depan yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga keberlangsungan planet bumi.
Melalui kolaborasi antara sektor swasta dan dunia pendidikan ini, Indonesia semakin optimis dalam mencetak generasi muda yang inovatif, tangguh, dan peduli terhadap isu-isu keberlanjutan global. Ke depan, diharapkan inisiatif seperti Young Voices for a Sustainable Future dapat menjangkau lebih banyak siswa di seluruh penjuru tanah air, sehingga semangat untuk berinovasi bagi lingkungan dapat menjadi budaya yang melekat pada setiap pelajar di Indonesia. Inovasi seperti O2H hanyalah permulaan dari ribuan solusi lain yang mungkin lahir dari tangan-tangan kreatif anak muda Indonesia dalam menjawab tantangan zaman yang kian mendesak.
