Hadir di Wisuda UNAS, Menko AHY Tekankan 5 Nilai Utama Menuju Indonesia Emas 2045
Universitas Nasional (UNAS) kembali mengukir sejarah dalam dunia pendidikan tinggi tanah air dengan menyelenggarakan Wisuda Sarjana dan Pascasarjana Periode II Tahun Akademik 2025/2026. Acara sakral yang digelar di Jakarta International Convention Center (JICC) pada Sabtu, 24 Oktober 2026 tersebut menjadi momentum penting bagi 804 lulusan yang resmi menyandang gelar baru. Prosesi wisuda ini tidak hanya menjadi perayaan akademik, tetapi juga ajang peneguhan komitmen generasi muda dalam menyongsong visi besar Indonesia Emas 2045 di tengah tantangan disrupsi global yang kian kompleks.
Sebanyak 804 wisudawan yang dikukuhkan dalam acara ini berasal dari delapan fakultas dan 35 program studi yang ada di lingkungan UNAS. Rincian lulusan tersebut mencakup 684 lulusan program Sarjana, 107 lulusan Magister, dan 13 lulusan Doktor. Para lulusan ini diharapkan menjadi agen perubahan yang mampu membawa Indonesia bersaing di kancah internasional dengan bekal intelektualitas dan karakter yang telah ditempa selama masa studi.
Tema yang diusung dalam wisuda kali ini sangat relevan dengan kondisi zaman, yakni "Generasi Pemimpin Indonesia di Era Disrupsi Global: Memperkuat Demokrasi, Inovasi, dan Ketahanan Bangsa Menuju Indonesia Emas 2045". Tema tersebut mencerminkan kesadaran penuh civitas akademika UNAS akan pentingnya peran lulusan dalam menjaga pilar-pilar bangsa di tengah ketidakpastian ekonomi dan politik global.
Kehadiran sejumlah tokoh nasional dalam prosesi ini memberikan warna tersendiri bagi para wisudawan. Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan RI, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menjadi tamu kehormatan yang memberikan orasi ilmiah dan pembekalan. Selain itu, hadir pula Duta Besar Indonesia untuk PBB, Umar Hadi, Wakil Menteri Ketenagakerjaan RI, Afriansyah Noor, serta Kepala LLDikti Wilayah III, Henri Togar Hasiholan Tambunan. Kehadiran para tokoh ini memberikan motivasi tersendiri bagi lulusan bahwa tanggung jawab yang menanti di depan mata adalah pengabdian kepada bangsa dan negara.
Rektor UNAS, Dr. El Amry Bermawi Putera, dalam sambutannya menegaskan bahwa ijazah bukanlah tujuan akhir, melainkan tiket untuk memasuki arena pengabdian yang lebih luas. "Keberhasilan sejati tidak diukur dari seberapa tinggi gelar yang Saudara raih, melainkan dari seberapa besar dampak positif yang Saudara berikan bagi masyarakat melalui ilmu yang Saudara miliki," ujar El Amry. Ia menambahkan bahwa di era yang penuh dengan ketidakpastian, keberhasilan akademik harus senantiasa diimbangi dengan etika, moralitas, dan kemampuan memberikan solusi nyata atas berbagai persoalan yang dihadapi bangsa.
Senada dengan Rektor, Ketua Pengurus Yayasan Memajukan Ilmu dan Kebudayaan (YMIK), Ramlan Siregar, mengingatkan para wisudawan tentang akar sejarah panjang UNAS yang telah berdiri sejak tahun 1949. Sebagai salah satu perguruan tinggi tertua di Indonesia, UNAS memiliki tanggung jawab moral untuk mencetak lulusan yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki kepekaan terhadap sejarah dan masa depan bangsa. Di tengah gempuran teknologi kecerdasan buatan (AI) dan dinamika geopolitik, lulusan UNAS dituntut untuk menjadi pemimpin yang visioner, bukan sekadar pengikut arus perubahan.
Dalam pidato utamanya, Menko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan RI, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), memberikan pembekalan mendalam bagi para lulusan. AHY menekankan lima nilai utama yang menjadi kunci bagi generasi muda untuk memenangkan persaingan di masa depan. Lima nilai tersebut adalah integritas, kompetensi, adaptabilitas, kolaborasi, dan resiliensi. Menurut AHY, kelima nilai ini harus dimiliki oleh setiap lulusan agar mampu menghadapi tantangan global yang semakin berat.
"Kelima nilai tersebut perlu berjalan beriringan agar lulusan mampu beradaptasi, berinovasi, dan berkontribusi bagi kemajuan bangsa. Jangan pernah merasa puas dengan apa yang sudah dicapai hari ini, karena dunia terus berubah dengan sangat cepat," tegas AHY. Ia juga memberikan pesan inspiratif kepada para lulusan untuk memiliki tiga keberanian utama: berani berubah, berani memimpin, dan berani membangun masa depan. Menurut AHY, keberanian untuk keluar dari zona nyaman adalah syarat mutlak bagi siapapun yang ingin menjadi pemimpin di masa depan Indonesia.
Lebih lanjut, AHY menyoroti pentingnya peran generasi muda dalam mendukung pembangunan infrastruktur dan konektivitas kewilayahan yang kini menjadi fokus utama pemerintah. Ia mengajak para wisudawan untuk turut serta dalam mengawal pembangunan nasional, baik melalui sektor BUMN, sektor swasta, maupun melalui kewirausahaan sosial. "Indonesia Emas 2045 bukan sekadar mimpi. Ini adalah target yang harus kita capai bersama, dan kalian adalah garda terdepan yang akan mengisi era tersebut," ungkapnya dengan penuh optimisme.
Kepala LLDikti Wilayah III, Henri Togar Hasiholan Tambunan, turut memberikan pandangan mengenai standar kualitas pendidikan tinggi di era modern. Ia menekankan bahwa peran perguruan tinggi tidak lagi terbatas pada transfer ilmu pengetahuan (transfer of knowledge), tetapi juga transfer nilai (transfer of values). Lulusan harus memiliki keunggulan kompetitif yang mampu menjawab kebutuhan pasar kerja yang dinamis sekaligus mampu menciptakan lapangan kerja baru melalui inovasi teknologi.
Menurut Henri, integritas menjadi mata uang yang paling berharga di dunia profesional. "Pendidikan tinggi harus mampu melahirkan lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter yang kuat, integritas yang tak tergoyahkan, dan kemampuan adaptasi yang tinggi. Di tengah dunia yang serba digital, kemampuan untuk tetap memegang teguh etika adalah pembeda antara pemimpin sejati dan mereka yang hanya mengejar kepentingan sesaat," ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa gelar akademik yang diraih hari ini adalah awal dari proses pembelajaran sepanjang hayat. Tantangan di dunia kerja akan menuntut para lulusan untuk terus mengembangkan diri, melakukan riset, dan berkolaborasi lintas disiplin ilmu. Kemampuan untuk bekerja sama dalam tim multikultural dan pemahaman mendalam mengenai isu-isu keberlanjutan menjadi kompetensi tambahan yang wajib dimiliki oleh lulusan masa kini.
Secara keseluruhan, wisuda UNAS kali ini menjadi penanda bahwa institusi pendidikan di Indonesia semakin serius dalam menyelaraskan kurikulum dengan kebutuhan industri dan visi pembangunan nasional. Sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan dunia industri yang tercermin dalam perhelatan ini diharapkan dapat menjadi model bagi peningkatan kualitas SDM Indonesia secara nasional.
Para wisudawan yang kini telah resmi menyandang gelar diharapkan mampu menjadi duta-duta perubahan di lingkungan masyarakatnya masing-masing. Dengan membawa semangat lima nilai utama yang ditekankan Menko AHY, para lulusan diharapkan mampu membawa kontribusi nyata dalam mewujudkan Indonesia yang lebih berdaulat, mandiri, dan berdaya saing global. Wisuda ini bukanlah akhir dari perjuangan, melainkan langkah awal dari perjalanan panjang menuju masa depan bangsa yang lebih gemilang di tahun 2045.
Di akhir acara, suasana haru dan bangga menyelimuti para wisudawan dan orang tua yang hadir. Momen ini bukan sekadar seremoni formal, melainkan pengakuan atas kerja keras, pengorbanan, dan dedikasi selama masa perkuliahan. UNAS berkomitmen untuk terus mencetak generasi emas yang tidak hanya menguasai teknologi, tetapi juga memiliki akar budaya bangsa yang kuat. Dengan bekal ilmu yang didapat, para lulusan kini siap menapaki dunia nyata dengan optimisme, membawa perubahan, dan menjadi motor penggerak Indonesia Emas 2045 yang telah dicita-citakan bersama.
