Tuesday, 3 November 2026 | Suara Orang Biasa & Wirausaha Muda

Kisah Inspiratif Ella dan Asri: Mengubah Potensi Lokal Lewat Hilirisasi Pertanian

Kisah Inspiratif Ella dan Asri: Mengubah Potensi Lokal Lewat Hilirisasi Pertanian
Dokumentasi Redaksi Panaraa7 / PANARA COURSE

Kisah Inspiratif Ella dan Asri: Mengubah Potensi Lokal Lewat Hilirisasi Pertanian

Di tengah tantangan global terkait penguatan ketahanan pangan nasional, peran krusial generasi muda dalam mengoptimalkan hilirisasi sektor pertanian kini menjadi pilar utama pembangunan ekonomi pedesaan. PT Pupuk Indonesia (Persero) secara konsisten terus mendorong terciptanya ekosistem pertanian yang tangguh, inklusif, dan inovatif dengan merangkul wirausaha muda. Langkah strategis ini diambil untuk memberikan nilai tambah ekonomi yang lebih besar bagi para petani di berbagai pelosok daerah, sekaligus membuktikan bahwa sektor pertanian adalah ladang masa depan yang menjanjikan bagi kaum milenial dan Gen Z.

Sekretaris Pupuk Indonesia, Yehezkiel Adiperwira, menegaskan bahwa pelibatan aktif anak muda merupakan kunci utama dalam mentransformasi sektor pertanian menjadi pilihan hidup yang prestisius dan menguntungkan. "Ketahanan pangan nasional tidak hanya bergantung pada ketersediaan dan keterjangkauan pupuk semata, tetapi juga pada penciptaan ekosistem pertanian yang kuat dan inovatif untuk keberlanjutan jangka panjang. Kami melihat bahwa keterlibatan generasi muda dalam mengoptimalkan hilirisasi usaha tani dapat memberikan nilai ekonomi yang lebih optimal, mengubah cara pandang petani tradisional menjadi pelaku usaha yang berorientasi pasar," ujar Yehezkiel.

Semangat inovasi dan hilirisasi tersebut kini menemukan wujud nyatanya melalui kiprah dua wirausaha muda inspiratif, Ella Rizki dan Asri Saraswati. Keduanya berhasil membuktikan bahwa dengan sentuhan teknologi, kreativitas, dan manajemen yang tepat, komoditas lokal yang selama ini dipandang sebelah mata dapat disulap menjadi produk bernilai jual tinggi. Lebih dari sekadar mencari keuntungan bisnis, mereka berhasil membangun ekosistem yang memberdayakan ratusan petani di daerahnya untuk naik kelas.

Langkah Inovatif Ella Rizki: Mengangkat Derajat Nira Kelapa ke Pasar Global

Semangat pemberdayaan yang digagas Ella Rizki bermula dari kepedulian mendalam terhadap potensi besar tanaman kelapa di lingkungan sekitarnya. Berasal dari keluarga petani nira kelapa di Desa Trenten, Kabupaten Magelang, Ella menyaksikan sendiri bagaimana orang tuanya dan para tetangga kesulitan mendapatkan harga jual yang layak karena hanya menjual nira secara mentah. Ia menyadari bahwa rantai nilai komoditas kelapa memiliki potensi ekonomi yang jauh lebih besar jika diolah secara mandiri dengan standar kualitas yang tinggi.

Pada tahun 2015, Ella memberanikan diri mendirikan Kelompok Wanita Tani (KWT) Nira Lestari. Melalui wadah ini, ia melakukan edukasi dan pelatihan kepada petani setempat untuk mengolah kelapa menjadi produk turunan bernilai tambah tinggi, seperti gula semut organik dan virgin coconut oil (VCO). Inovasi ini tidak hanya meningkatkan harga jual berkali-kali lipat, tetapi juga membuka akses pasar yang sebelumnya sulit dijangkau oleh petani kecil. Saat ini, produk olahan KWT Nira Lestari telah sukses menembus pasar internasional, membawa nama desa ke kancah global.

Tidak berhenti pada kesuksesan bisnis pribadinya, Ella turut merangkul dan membina lebih dari 500 petani di berbagai daerah. Ia mengajarkan pentingnya standarisasi produk, pengemasan yang menarik, serta sertifikasi organik agar produk petani lokal mampu bersaing dengan produk industri besar. "Kelapa yang dulu cuma dijual mentah dengan harga murah, sekarang bisa jadi produk premium yang menembus pasar ekspor. Inilah bukti nyata hilirisasi usaha tani. Ini bukan sekadar mengolah produk, tapi mengubah nasib ekonomi petani lokal secara berkelanjutan. Saya berharap semakin banyak desa yang berani mengambil langkah serupa," ungkap Ella dengan penuh optimisme.

Agradaya oleh Asri Saraswati: Modernisasi Rempah Menoreh

Kisah Inspiratif Ella dan Asri: Mengubah Potensi Lokal Lewat Hilirisasi Pertanian

Transformasi serupa juga dihadirkan oleh Asri Saraswati Iskandar bersama suaminya, Andhika Mahardika, melalui inisiatif bernama Agradaya. Berpindah dari hiruk-pikuk perkotaan menuju pedesaan di kawasan Perbukitan Menoreh, Kulon Progo, Asri melihat potensi luar biasa dari komoditas rempah yang tumbuh subur di wilayah tersebut. Namun, masalah klasik tetap ada: petani hanya berperan sebagai pemasok bahan baku mentah dengan nilai jual yang sangat terbatas dan sangat bergantung pada tengkulak.

Agradaya hadir untuk memutus rantai ketergantungan tersebut dengan mengubah paradigma petani. Asri melatih para petani lokal agar memahami proses pascapanen yang benar, mulai dari teknik sortasi, pembersihan, hingga pengemasan yang memenuhi standar kualitas pasar ekspor. Salah satu inovasi teknologi yang dihadirkan Agradaya adalah solar dryer house atau Rumah Surya. Teknologi ini menjadi solusi cerdas bagi petani di Perbukitan Menoreh untuk mengatasi kendala cuaca saat proses pengeringan hasil panen, sehingga kualitas rempah tetap terjaga meski musim penghujan datang.

Hingga saat ini, Agradaya telah menjalin kemitraan strategis dengan lebih dari 300 petani lokal. Mereka tidak lagi hanya menjual jahe, kunyit, atau lengkuas secara asal, melainkan produk-produk rempah olahan yang memiliki nilai tambah tinggi. "Bagi kami, hilirisasi akan jauh lebih optimal jika kita tidak hanya melahirkan inovasi pengolahan komoditas, namun juga memberikan transfer pengetahuan secara masif. Kami ingin petani memiliki kapasitas mandiri untuk meningkatkan kualitas hasil panen mereka sendiri, kini dan nanti," jelas Asri.

Melalui pendekatan pengolahan dan transfer pengetahuan, para petani binaan Agradaya telah bertransformasi dari buruh tani menjadi mitra bisnis yang berdaya. Mereka kini memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai manajemen usaha tani yang berkelanjutan, sebuah keterampilan yang bisa diwariskan kepada generasi berikutnya agar sektor pertanian tetap hidup dan berkembang di masa depan.

Apresiasi Tinggi Melalui Svarna Bhumi Award 2026

Kiprah inspiratif yang ditunjukkan oleh Ella Rizki dan Asri Saraswati mendapatkan apresiasi luas dari berbagai pihak, termasuk pemerintah dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Sebagai bentuk dukungan nyata atas kontribusi mereka dalam membangun kemandirian ekonomi pedesaan dan penguatan sektor pangan nasional, Pupuk Indonesia menganugerahi keduanya melalui ajang bergengsi Svarna Bhumi Award 2026.

Ajang ini diselenggarakan bukan sekadar untuk memberikan penghargaan, melainkan untuk mengangkat kiprah para wirausaha muda yang berani berinovasi mengolah potensi lokal. Svarna Bhumi Award 2026 menjadi simbol harapan bagi generasi penerus bangsa bahwa menjadi petani modern atau pelaku agribisnis adalah pilihan karir yang membanggakan. Keberhasilan Ella dan Asri diharapkan menjadi "percikan api" yang memicu semangat anak muda lainnya untuk turun ke lapangan dan berkontribusi nyata bagi bangsa.

Yehezkiel Adiperwira menutup dengan pesan penuh makna, "Kami percaya bahwa generasi muda memegang kunci dalam penguatan ekosistem pertanian di masa depan. Kami berharap semakin banyak anak muda yang berani mengembangkan potensi lokal, membangun usaha yang berdampak, dan berbagi pengetahuan kepada petani di sekitarnya. Dengan inovasi teknologi, kolaborasi yang kuat, dan semangat pantang menyerah, generasi muda dapat membantu petani Indonesia naik kelas sekaligus memastikan bahwa kedaulatan dan ketahanan pangan Indonesia akan terus terjaga hingga generasi mendatang."

Kisah Ella dan Asri adalah pengingat bahwa hilirisasi bukan hanya tentang mesin atau pabrik besar. Hilirisasi adalah tentang cara pandang, inovasi, dan keberanian untuk memberi nilai tambah pada apa yang kita miliki di tanah air sendiri. Dengan kolaborasi yang tepat, pertanian Indonesia tidak hanya akan mampu memberi makan bangsa, tetapi juga menjadi tulang punggung ekonomi yang disegani di dunia internasional. (Stevy Widia)