Dukung Net Zero Emission 2060, TransTRACK Rilis Fitur Real-Time EV Battery Monitoring Berbasis AI dan IoT
TransTRACK, penyedia solusi teknologi manajemen armada terkemuka, resmi meluncurkan fitur inovatif Real-Time EV Battery Monitoring guna mendukung akselerasi efisiensi pengelolaan Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBLBB) bagi perusahaan-perusahaan di Indonesia. Langkah strategis ini dirancang sebagai katalisator dalam mempercepat transisi sektor transportasi nasional menuju target ambisius Net Zero Emission (NZE) pada tahun 2060. Melalui integrasi teknologi Artificial Intelligence (AI) dan Internet of Things (IoT), TransTRACK berupaya menjawab tantangan teknis dalam pengelolaan aset listrik yang kian masif di tanah air.
Inovasi ini merupakan bagian integral dari ekosistem Fleet Operation Optimizer milik TransTRACK yang terpadu dalam satu platform komprehensif. Pengembangan teknologi ini bukan sekadar upaya komersial, melainkan respons nyata atas komitmen pemerintah dalam mendorong ekosistem kendaraan listrik, sebagaimana diamanatkan dalam Peraturan Presiden Nomor 55 Tahun 2019 tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai untuk Transportasi Jalan, serta diperkuat dengan Peraturan Presiden Nomor 79 Tahun 2023 yang mengatur tentang perubahan atas Perpres sebelumnya terkait percepatan program KBLBB.
Founder & CEO TransTRACK, Anggia Meisesari, menegaskan bahwa kesuksesan elektrifikasi armada di level korporasi tidak cukup hanya dengan membeli unit kendaraan listrik. Menurutnya, terdapat parameter krusial yang sering luput dari perhatian, yakni kecerdasan dalam mengelola sistem operasional baterai. Tanpa pemantauan yang tepat, efisiensi yang diharapkan dari penggunaan kendaraan listrik justru bisa menjadi bumerang bagi produktivitas perusahaan.
"Elektrifikasi armada bukan hanya tentang mengganti kendaraan berbahan bakar fosil dengan kendaraan listrik. Perusahaan juga membutuhkan teknologi yang mampu memastikan armada tetap beroperasi secara optimal melalui pemantauan kondisi baterai secara real-time. Dengan visibilitas yang lebih baik, perusahaan dapat meningkatkan produktivitas armada, mengurangi risiko downtime yang tidak terduga, sekaligus mengoptimalkan efisiensi operasional secara keseluruhan," ujar Anggia.
Dalam operasional logistik dan transportasi, baterai merupakan komponen dengan biaya pemeliharaan dan risiko penggantian paling tinggi. Oleh karena itu, fitur Real-Time EV Battery Monitoring hadir untuk memberikan kontrol penuh kepada fleet manager. Pengguna dapat memantau berbagai parameter vital secara langsung, mulai dari State of Charge (SoC) atau persentase level baterai, status kendaraan secara detail, waktu pengapian (ignition), data odometer, engine hours, kecepatan rata-rata, hingga koordinat lokasi presisi armada. Data-data ini diolah oleh mesin AI untuk memberikan peringatan dini (early warning) jika terjadi anomali pada baterai sebelum kendaraan mengalami mogok di tengah jalan.
VP of Business Development TransTRACK, Ndaru Ruseno, menambahkan bahwa manajemen armada kendaraan listrik membutuhkan pendekatan berbasis data yang jauh berbeda dibandingkan dengan armada konvensional berbasis bahan bakar minyak. Perbedaan mendasar terletak pada ketergantungan operasional terhadap siklus pengisian daya (charging cycle) dan degradasi kesehatan baterai (State of Health).
"Pada kendaraan listrik, kondisi baterai menjadi indikator utama dalam menentukan kesiapan operasional. Dengan mengintegrasikan data baterai, telematika kendaraan, serta parameter operasional lainnya dalam satu platform berbasis AI dan IoT, fleet manager dapat memahami apakah kendaraan tersebut benar-benar siap menjalankan tugas berikutnya atau memerlukan pengisian daya segera. Pergeseran paradigma dari sekadar vehicle tracking menjadi operational intelligence inilah yang menjadi fondasi utama pengelolaan armada listrik ke depan," jelas Ndaru.

Implementasi teknologi ini pun telah diuji coba dan diadopsi di lapangan oleh sektor transportasi interkota, salah satunya adalah BHISA Shuttle dari PT Bhinneka Sangkuriang Transport. Perusahaan ini telah mengoperasikan armada listrik untuk melayani rute mobilitas Bandung–Purwakarta (PP). Dalam pengoperasiannya, BHISA Shuttle menghadapi tantangan unik mengenai manajemen waktu pengisian daya agar jadwal keberangkatan tetap terjaga dan efisiensi energi tetap maksimal.
Operational Manager BHISA Shuttle, Denny Cahya, mengungkapkan bahwa transisi ke kendaraan listrik memerlukan kedisiplinan operasional yang lebih tinggi. "Penggunaan kendaraan listrik merupakan bagian dari upaya kami menghadirkan layanan transportasi yang ramah lingkungan. Melalui dukungan teknologi TransTRACK, pemantauan lokasi dan tingkat baterai kendaraan dapat dilakukan secara lebih terintegrasi oleh tim operasional. Hal ini membuat koordinasi menjadi jauh lebih efektif, sehingga kesiapan armada dapat terjaga dan penumpang mendapatkan layanan yang tepat waktu," ungkap Denny.
Selain efisiensi operasional, penggunaan teknologi ini juga memberikan kontribusi signifikan terhadap keberlanjutan lingkungan. Dengan manajemen baterai yang optimal, usia pakai baterai (SOH) dapat diperpanjang, yang berarti mengurangi limbah baterai litium yang berbahaya bagi lingkungan. TransTRACK memahami bahwa untuk mencapai target NZE 2060, diperlukan sinergi antara kebijakan pemerintah, adopsi teknologi oleh swasta, dan edukasi terhadap operator di lapangan.
Lebih jauh lagi, TransTRACK melihat potensi besar dalam integrasi data AI untuk memprediksi kebutuhan pengisian daya berdasarkan pola rute. Sistem ini nantinya akan mampu menyarankan kapan waktu terbaik untuk melakukan pengisian daya guna menghindari beban puncak listrik dan menekan biaya operasional seminimal mungkin. Hal ini sangat krusial bagi perusahaan logistik yang memiliki ritme kerja 24 jam.
Ke depan, TransTRACK berkomitmen untuk terus mengembangkan inovasi analitik data, AI, dan IoT guna menjawab kebutuhan pengelolaan armada logistik maupun transportasi yang ramah lingkungan dan berkelanjutan di Indonesia. Perusahaan berencana untuk memperluas kemitraan dengan berbagai produsen kendaraan listrik (OEM) untuk melakukan integrasi data yang lebih dalam, sehingga fitur monitoring ini bisa mencakup diagnostik kesehatan baterai yang lebih mendalam, termasuk deteksi suhu sel dan keseimbangan tegangan baterai.
Dukungan teknologi ini diharapkan dapat memicu kepercayaan pelaku industri transportasi untuk segera beralih dari armada berbasis BBM ke armada listrik. Dengan adanya jaminan efisiensi melalui Real-Time EV Battery Monitoring, hambatan psikologis terkait "kecemasan baterai" (range anxiety) yang sering dialami oleh pengelola armada dapat teratasi.
TransTRACK, sebagai pemain kunci di industri teknologi transportasi, terus berupaya menjadi jembatan bagi transformasi digital di sektor logistik. Dengan totalitas dalam riset dan pengembangan, perusahaan ini tidak hanya sekadar menjual perangkat keras, tetapi menyediakan solusi end-to-end yang mampu menjawab tantangan nyata di lapangan. Inisiatif peluncuran fitur EV Battery Monitoring ini menjadi bukti nyata bahwa inovasi lokal mampu bersaing dan mendukung agenda nasional untuk menciptakan Indonesia yang lebih hijau, efisien, dan cerdas dalam mengelola aset transportasi.
Dengan visi jangka panjang yang sejalan dengan peta jalan pemerintah, TransTRACK memosisikan diri sebagai mitra strategis bagi perusahaan-perusahaan Indonesia yang tengah bertransformasi menuju operasional hijau. Integrasi AI dan IoT dalam manajemen baterai adalah langkah awal dari revolusi transportasi yang lebih luas, di mana data menjadi komoditas utama dalam pengambilan keputusan yang akurat, cepat, dan berkelanjutan. Seiring dengan semakin banyaknya armada listrik yang mengaspal di jalanan Indonesia, peran teknologi pemantauan yang cerdas akan menjadi standar industri yang tidak bisa ditawar lagi.
