Wednesday, 4 November 2026 | Suara Orang Biasa & Wirausaha Muda

Lini Data dan IT Service Telkom Tumbuh 8,3% Pada Kuartal III 2026

Lini Data dan IT Service Telkom Tumbuh 8,3% Pada Kuartal III 2026
Dokumentasi Redaksi Panaraa7 / PANARA COURSE

Lini Data dan IT Service Telkom Tumbuh 8,3% Pada Kuartal III 2026

PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk berhasil mempertahankan momentum pertumbuhan positif sepanjang sembilan bulan pertama tahun 2026 di tengah lanskap industri telekomunikasi yang kian kompetitif dan dinamis. Hingga penutupan kuartal III 2026, raksasa telekomunikasi pelat merah ini membukukan pendapatan konsolidasi sebesar Rp113,5 triliun, mencatatkan kenaikan 3,5% secara tahunan (year-on-year/YoY). Kinerja solid ini didorong secara signifikan oleh lini bisnis Data, Internet, dan IT Services yang melesat 8,3% YoY menjadi Rp71,5 triliun, sebuah indikator kuat bahwa strategi digitalisasi perseroan telah berada di jalur yang tepat.

Dari aspek profitabilitas, Telkom membukukan EBITDA sebesar Rp55,5 triliun dengan margin yang terjaga di level 48,9%. Sementara itu, laba bersih perusahaan tercatat sebesar Rp14,4 triliun, dengan laba bersih normalisasi tumbuh 3,9% YoY menjadi Rp16,5 triliun dan margin laba bersih normalisasi mencapai 14,6%. Capaian ini menjadi bukti ketahanan fundamental keuangan Telkom dalam menghadapi tantangan ekonomi makro sekaligus keberhasilan dalam mengeksekusi transformasi strategis jangka panjang bertajuk TLKM 30.

Direktur Utama Telkom, Nanang Hendarno, menegaskan bahwa perseroan secara konsisten mengarahkan transformasi pada penguatan bisnis inti (core business) yang memberikan nilai tambah nyata bagi masyarakat. "Transformasi yang kami jalankan berfokus pada pertumbuhan sekaligus penguatan fundamental bisnis untuk jangka panjang. Kami melihat konsumsi masyarakat terhadap layanan data terus meningkat, seiring kebutuhan akan layanan digital yang semakin andal. Tren ini merupakan peluang bagi TelkomGroup untuk terus mengembangkan bisnis sekaligus meningkatkan nilai dari kapabilitas konektivitas dan infrastruktur yang dimiliki. Karena itu, kami terus menyiapkan bisnis yang lebih adaptif dan terintegrasi agar mampu menangkap peluang industri digital ke depan," ujar Nanang dalam keterangannya, Selasa (3/11/2026).

Ekspansi di Segmen Konsumer dan Seluler

Pada segmen Business-to-Consumer (B2C) yang menjadi tulang punggung pendapatan, Telkom membukukan total pendapatan Rp81,6 triliun, tumbuh 3,5% YoY. Anak usaha Telkomsel mencatatkan kinerja impresif dengan pendapatan Rp82,9 triliun, naik 1,8% YoY, yang didominasi oleh bisnis digital sebesar Rp60,7 triliun atau tumbuh 7,7% YoY. Keberhasilan Telkomsel dalam mengelola basis pelanggan terlihat dari pertumbuhan ARPU seluler sebesar 7,1% YoY menjadi Rp45.400, yang disertai dengan kenaikan data yield sebesar 6,5% YoY.

Di sisi lain, layanan fixed broadband IndiHome mencatatkan pendapatan Rp19,1 triliun. Meskipun perseroan melakukan penataan basis pelanggan yang lebih selektif, jumlah pelanggan IndiHome justru meningkat 1,2% secara kuartalan (quarter-on-quarter/QoQ) menjadi 9,63 juta. Lebih jauh, strategi monetisasi yang lebih baik berhasil mendongkrak ARPU IndiHome sebesar 3,2% QoQ menjadi Rp217.700 pada kuartal III 2026.

Dominasi B2B dan Infrastruktur Digital

Segmen B2B Infrastructure menunjukkan performa yang menjanjikan dengan pertumbuhan pendapatan 5,5% YoY menjadi Rp7,1 triliun. Fokus pada penyewaan menara, konektivitas, dan data center menjadi mesin pertumbuhan utama. Mitratel, sebagai entitas menara telekomunikasi, membukukan pendapatan sebesar Rp7,01 triliun dengan margin EBITDA yang sangat sehat di angka 82,9%, menghasilkan laba bersih Rp1,55 triliun.

Salah satu bintang pertumbuhan dalam portofolio Telkom adalah unit data center, NeutraDC. Hingga September 2026, NeutraDC membukukan pendapatan Rp1,39 triliun atau melonjak 17% YoY, dengan lonjakan EBITDA mencapai 35% YoY. Pertumbuhan ini sejalan dengan ambisi Telkom untuk menangkap pasar komputasi awan dan kecerdasan buatan (AI) di Indonesia. Saat ini, NeutraDC tengah memacu pengembangan kapasitas total hingga 400 megawatt (MW) dengan aspirasi jangka panjang mencapai 1 gigawatt (GW). Langkah ini sangat krusial mengingat kebutuhan infrastruktur data center di Indonesia diprediksi akan terus meningkat pesat seiring masifnya adopsi teknologi AI oleh sektor korporasi dan pemerintah.

Lini Data dan IT Service Telkom Tumbuh 8,3% Pada Kuartal III 2026

Sementara itu, segmen B2B ICT mencatat pertumbuhan 3,1% YoY menjadi Rp11,2 triliun. Pertumbuhan ini disokong oleh sektor Usaha Kecil dan Menengah (SME) melalui layanan Indibiz yang berhasil menggaet 771,1 ribu pelanggan, tumbuh 10,9% YoY. Selain itu, layanan konektivitas High-Speed Internet (HSI) Telkom Solution juga mencatat pertumbuhan sebesar 6,2% YoY.

Kinerja segmen internasional yang dikelola oleh Telin juga menunjukkan sinyal positif dengan kenaikan pendapatan 5,8% YoY menjadi Rp8,9 triliun. Pendapatan dari segmen jaringan melonjak drastis sebesar 50,2% YoY menjadi Rp1,37 triliun. Telin terus memperkuat posisinya sebagai hub kabel laut regional dengan pendaratan kabel ICE 1 di Batam pada Juli 2026, disusul dengan proyek INSICA yang diproyeksikan beroperasi pada kuartal IV 2026 untuk memperkokoh konektivitas global Indonesia.

Akselerasi Transformasi TLKM 30 dan InfraNexia

Transformasi Telkom melalui kerangka TLKM 30 kini telah memasuki fase krusial. Empat pilar utama yang mencakup Operational & Service Excellence, Streamlining, Unlock Value, dan Modus-operandi Shift terbukti efektif dalam menjaga kelincahan organisasi. Melalui pilar Streamlining, Telkom telah melakukan penataan terhadap 14 entitas anak usaha, yang melibatkan divestasi, penutupan, maupun penggabungan entitas, guna menciptakan struktur organisasi yang lebih ramping (lean) dan gesit (agile).

Dari sisi belanja modal (capex), TelkomGroup merealisasikan penyerapan sebesar Rp15,7 triliun dengan rasio capex-to-revenue sebesar 13,8%. Alokasi dana ini mayoritas, yakni sebesar 94,3%, diarahkan untuk penguatan kapabilitas infrastruktur B2C dan B2B, terutama pada ekspansi jaringan serat optik dan kapasitas data center.

Salah satu langkah paling strategis dalam agenda Unlock Value adalah peresmian InfraNexia pada 30 September 2026. Entitas ini dibentuk untuk menampung seluruh aset dan bisnis wholesale fiber connectivity milik Telkom. Dengan lebih dari 90% aset serat optik TelkomGroup dikonsolidasikan ke dalam InfraNexia, perusahaan kini menerapkan model bisnis carrier-neutral dan open-access. Langkah ini tidak hanya mengoptimalkan utilisasi infrastruktur yang sudah ada, tetapi juga membuka peluang kolaborasi yang lebih luas dengan mitra strategis dan operator telekomunikasi lainnya tanpa hambatan kompetisi yang tidak perlu.

Proyeksi Masa Depan

Dengan capaian hingga kuartal III 2026, Telkom menunjukkan optimisme yang kuat untuk menutup tahun buku dengan kinerja yang solid. Fokus perusahaan pada penguatan fundamental, diversifikasi pendapatan melalui data center, serta efisiensi operasional melalui langkah streamlining diprediksi akan memberikan dampak positif pada profitabilitas jangka panjang.

Di tengah tantangan disrupsi teknologi, Telkom telah memposisikan dirinya bukan sekadar sebagai penyedia jasa telekomunikasi (telco), melainkan sebagai penyedia infrastruktur digital (digital infra) dan layanan digital (digital services) yang relevan bagi ekonomi digital nasional. Dengan dukungan infrastruktur fiber optik yang kini dikelola secara profesional oleh InfraNexia dan ambisi kapasitas data center skala gigawatt, Telkom berada di garda terdepan untuk mendukung visi Indonesia Emas 2045 melalui akselerasi transformasi digital di berbagai sektor.

"Kami optimistis dapat menutup tahun 2026 dengan kinerja yang semakin solid dan prima. Sejalan dengan itu, TelkomGroup akan terus meningkatkan kualitas layanan dan menghadirkan customer experience terbaik, sehingga setiap inovasi dan kapabilitas yang kami kembangkan dapat memberikan manfaat secara maksimal bagi pelanggan dan masyarakat luas," tutup Nanang Hendarno dengan nada optimis. Dengan modalitas yang kuat dan strategi yang terfokus, Telkom siap menghadapi babak baru industri telekomunikasi yang berbasis pada efisiensi infrastruktur dan kedaulatan data nasional.