Telkom Targetkan Penurunan Emisi 20% pada 2030
PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk secara resmi mempercepat peta jalan dekarbonisasi korporasi melalui implementasi Rencana Transisi Iklim TelkomGroup yang ambisius. Langkah strategis ini dirancang sebagai fondasi utama perusahaan dalam mentransformasi operasional bisnis menuju pola yang lebih ramah lingkungan, dengan tujuan akhir mencapai Net Zero Emission (NZE) pada tahun 2060. Sebagai perusahaan telekomunikasi digital terbesar di Indonesia, Telkom menyadari bahwa tanggung jawab terhadap lingkungan bukan sekadar pemenuhan regulasi, melainkan upaya krusial untuk memastikan keberlangsungan operasional di tengah ancaman perubahan iklim global.
Dalam Rencana Transisi Iklim yang mulai diakselerasi sejak tahun 2025, TelkomGroup telah menetapkan target penurunan emisi yang terukur, mencakup emisi Cakupan 1 (emisi langsung dari operasional) dan Cakupan 2 (emisi tidak langsung dari penggunaan energi). Target tersebut dipatok secara bertahap: penurunan sebesar 20% pada tahun 2030, meningkat menjadi 40% pada tahun 2040, 70% pada tahun 2050, hingga akhirnya mencapai 100% atau net zero pada tahun 2060. VP Sustainability Telkom, Gunawan Wasisto Ciptaning Andri, menegaskan bahwa eksekusi rencana ini dilakukan dengan pendekatan yang sangat disiplin di seluruh tingkatan operasional, mulai dari pusat data, menara telekomunikasi, hingga unit bisnis pendukung lainnya.
Keberhasilan mencapai target ini bergantung pada efektivitas enam pilar dekarbonisasi yang telah ditetapkan oleh manajemen. Pilar-pilar tersebut mencakup efisiensi energi secara menyeluruh, elektrifikasi operasional, pemanfaatan sumber energi terbarukan, serta penggunaan instrumen berbasis pasar seperti Renewable Energy Certificate (REC) dan Sertifikat Pengurangan Emisi Gas Rumah Kaca (SPE GRK). Strategi ini sangat vital mengingat profil emisi TelkomGroup didominasi oleh konsumsi listrik yang masif pada infrastruktur telekomunikasi dan pusat data (data center). Oleh karena itu, tantangan utama Telkom adalah bagaimana melakukan dekarbonisasi tanpa mengorbankan kualitas dan keandalan layanan digital bagi jutaan pelanggan di seluruh pelosok negeri.
Program besar ini berada di bawah payung Environmental, Social, and Governance (ESG) perusahaan yang bertajuk GoZero% – Sustainability Action by Telkom Indonesia, khususnya pada pilar Save Our Planet. Program ini mencerminkan komitmen nyata Telkom untuk menyelaraskan pertumbuhan bisnis digital dengan pelestarian lingkungan. Implementasi dari visi ini sudah terlihat jelas di kawasan kantor pusat, The Telkom Hub, yang kini diproyeksikan sebagai kawasan percontohan net zero untuk emisi Cakupan 1 dan 2.

Bukti konkret efisiensi energi di The Telkom Hub dapat dilihat dari pemasangan 77 unit Penerangan Jalan Utama Tenaga Surya (PJUTS) di area sekitar gedung. Inisiatif sederhana namun berdampak besar ini mampu menghemat konsumsi listrik gedung Telkom Landmark Tower hingga 20.235,6 kWh per tahun. Direktur Utama PT Telkom Landmark Tower (TLT), Suratman, menambahkan bahwa efisiensi tidak berhenti pada pemanfaatan energi surya. Pihaknya terus meningkatkan penggunaan teknologi Building Management System (BMS) yang canggih untuk memantau dan mengoptimalkan konsumsi daya harian gedung secara real-time. Dengan BMS, penggunaan energi dapat ditekan seminimal mungkin melalui kontrol otomatis pada sistem pendingin ruangan dan penerangan di area yang tidak aktif.
Selain efisiensi internal, Telkom juga mengandalkan kekuatan ekosistem anak usahanya, terutama PT Telkom Data Ekosistem (NeutraDC). Mengingat pusat data adalah konsumen listrik terbesar, Telkom secara agresif mengakuisisi 45.407 unit REC dari Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA). Langkah strategis melalui instrumen berbasis pasar ini diproyeksikan mampu menekan emisi Cakupan 2 hingga 42.425,7 ton CO2e. Penggunaan REC menjadi jembatan penting bagi Telkom untuk memastikan bahwa listrik yang digunakan oleh pusat data mereka berasal dari sumber energi terbarukan, sehingga jejak karbon perusahaan dapat ditekan secara signifikan dalam waktu singkat.
Komitmen Telkom dalam dekarbonisasi ini juga selaras dengan tren global di industri telekomunikasi yang semakin sadar akan dampak lingkungan. Sebagai pemimpin pasar, langkah Telkom diharapkan dapat memicu efek domino bagi perusahaan teknologi lainnya di Indonesia untuk turut serta dalam transisi energi hijau. Tantangan ke depan memang tidak mudah, terutama dalam menyeimbangkan antara kebutuhan investasi besar pada teknologi rendah karbon dengan target profitabilitas perusahaan. Namun, Telkom memandang bahwa biaya yang dikeluarkan untuk dekarbonisasi saat ini adalah investasi masa depan yang akan melindungi nilai perusahaan dari risiko perubahan iklim di masa depan.
Lebih jauh, Telkom juga tengah menjajaki pemanfaatan panel surya atap (rooftop solar) di berbagai kantor regional dan gedung operasional lainnya di luar Jakarta. Pengintegrasian teknologi Internet of Things (IoT) untuk pemantauan penggunaan energi di menara-menara BTS (Base Transceiver Station) juga menjadi fokus pengembangan. Dengan ribuan menara yang tersebar di wilayah geografis Indonesia yang luas, adopsi energi terbarukan di level tapak akan menjadi kunci keberhasilan dalam mencapai target penurunan emisi 20% pada tahun 2030 mendatang.
Keberhasilan Telkom dalam mengintegrasikan aspek ESG ke dalam strategi bisnis inti membuktikan bahwa perusahaan besar dengan operasional masif tetap bisa melakukan transformasi hijau. Melalui kolaborasi antara manajemen pusat, anak perusahaan, dan pemanfaatan teknologi, Telkom optimis dapat menjadi katalis utama dalam transisi ekonomi hijau di Indonesia. Upaya ini bukan hanya tentang angka-angka emisi, melainkan tentang membangun ekosistem digital yang tangguh, efisien, dan bertanggung jawab terhadap bumi bagi generasi mendatang. Dengan konsistensi yang ditunjukkan saat ini, Telkom berada di jalur yang tepat untuk memenuhi janji keberlanjutannya bagi para pemangku kepentingan, investor, dan seluruh masyarakat Indonesia.
